KOLAKA – PT Vale Indonesia Tbk terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Puulemo dan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, di sekitar area Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa.

Berdasarkan pemetaan sementara per 23 Oktober 2026, kebakaran di wilayah Puulemo diperkirakan mencakup area seluas 31,68 hektare yang berada di dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Vale Indonesia. Sementara itu, kebakaran di wilayah Baula diperkirakan mencapai sekitar 90 hektare, meliputi area IUPK dan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH).

Dalam penanganan di Puulemo, tim Fire and Emergency Services (FES) Vale Indonesia bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengendalikan api dan mencegah kebakaran meluas.

Adapun penanganan di Baula masih dalam tahap koordinasi intensif, terutama untuk mengidentifikasi akses menuju titik kebakaran dan sumber air terdekat. Keterbatasan akses menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya pemadaman di wilayah tersebut.

Head of Pomalaa Project Vale Indonesia, Mohammad Rifai, mengatakan perusahaan terus mengerahkan kemampuan dan sumber daya yang tersedia untuk mempercepat penanganan karhutla dengan mengutamakan keselamatan personel.

“Tim FES Vale Indonesia terus bekerja bersama BPBD untuk menangani kebakaran di Puulemo. Pada saat yang sama, kami sedang mempersiapkan respons terhadap kebakaran di Baula, mulai dari pemetaan akses menuju lokasi, identifikasi sumber air terdekat, asesmen lapangan, hingga koordinasi dengan pemerintah dan instansi terkait,” ujar Rifai.

Untuk mendukung penanganan di Baula, Vale Indonesia berkoordinasi dengan tim eksplorasi guna mengidentifikasi jalur yang dapat dilalui menuju lokasi kebakaran. Asesmen lapangan juga disiapkan untuk memperoleh gambaran visual dan data aktual mengenai kondisi wilayah terdampak.

Hasil asesmen tersebut nantinya menjadi dasar dalam menentukan metode penanganan yang dinilai efektif dan aman sesuai kondisi di lapangan.

“Setiap waktu sangat berarti dalam situasi seperti ini. Namun, keselamatan masyarakat dan seluruh personel yang terlibat harus tetap menjadi prioritas. Karena itu, kami memastikan setiap langkah dilakukan berdasarkan kondisi aktual di lapangan dan melalui koordinasi yang kuat dengan seluruh pihak,” kata Rifai.

Selain upaya pemadaman, Vale Indonesia juga menyiapkan dukungan peralatan dan tenaga apabila diperlukan pembuatan sekat bakar untuk memutus jalur penyebaran api.

Perusahaan turut melakukan pembaruan data setiap hari, meliputi pemetaan wilayah terdampak, dokumentasi visual, serta pencatatan koordinat titik kebakaran sebagai bahan pemantauan dan dasar pengambilan keputusan bersama.

Penanganan karhutla di Baula juga akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan pemerintah daerah dan instansi terkait, termasuk Satuan Tugas Penanganan Karhutla, BPBD, Pemerintah Kabupaten Kolaka, serta Kesatuan Pengelolaan Hutan. Kondisi tersebut juga akan dilaporkan melalui sistem pemantauan karhutla Sipongi.

Dengan mempertimbangkan perkiraan luas wilayah terdampak, Vale Indonesia mendorong dukungan tambahan dari unsur terkait untuk memperkuat kapasitas penanganan, khususnya dalam menghadapi tantangan medan dan potensi meluasnya kebakaran.

Apabila kondisi di lapangan tidak memungkinkan penanganan melalui jalur darat, dukungan udara juga dapat dipertimbangkan. Keputusan mengenai langkah lanjutan akan ditentukan berdasarkan hasil asesmen, dengan memperhatikan aspek keselamatan, efektivitas penanganan, kondisi lingkungan, dan ketentuan perizinan.

Melalui koordinasi bersama pemerintah dan instansi terkait, Vale Indonesia menyatakan terus berupaya mendukung penanganan karhutla di wilayah IGP Pomalaa agar kebakaran dapat dikendalikan dan tidak meluas ke area lainnya.

 

Iklan
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *